Lelaki itu memang seperti LANGIT. Aku takan bisa
menggapai ujung tertinggi dari hatinya. Ia tampak begitu dekat, namun takan
bisa ku sentuh. Tatapan matanya itu seolah matahari. Takan mampu kutangkap
dengan mudah. Namun aku bisa merasakan cahayanya. Bahkan di malam hari, Ia
masih menyinariku. Se-rupawan bintang sirius yg bersinar paling terang di
LANGIT.
Lalu bagaimana aku bisa melupakannya? Setiap aku
menatap LANGIT aku bisa melihatnya, mengingatnya, merasakannya di dalam hatiku.
Hampir gila rasanya mencoba melupakannya, lebih baik tidak melupakannya kan?
Tapi, bagaimana aku bisa hidup dengan kenangan yang
selalu aku ingat? Aku harus hidup dengan kenangan lelaki yg sangat aku sayang
namun tidak bisa aku miliki. Seolah Ia menyambarkan petirnya tepat di jantungku.
Aku masih mampu bernafas, tapi sakit untuk menghelanya. Berkali-kali sambaran
itu tak bisa menghentikan perasaanku padanya. Apa aku sudah mati rasa? Apa mati
rasa salah satu tanda kebodohanku karna terlalu jauh mencintainya?
Apa hukuman untuk perempuan yg tidak bisa melepaskan
diri dari kenangannya? Aku mungkin bisa melupakannya, tapi aku tidak mau
mencobanya. Atau mungkin aku mau melupakannya, tapi aku tidak bisa. Atau aku
memang tidak bisa melupakannya karna aku tidak mau melepasnya. Entah kenapa dia
masih jelas dalam pikiranku.