Selasa, 11 November 2014

LANGIT

Lelaki itu memang seperti LANGIT. Aku takan bisa menggapai ujung tertinggi dari hatinya. Ia tampak begitu dekat, namun takan bisa ku sentuh. Tatapan matanya itu seolah matahari. Takan mampu kutangkap dengan mudah. Namun aku bisa merasakan cahayanya. Bahkan di malam hari, Ia masih menyinariku. Se-rupawan bintang sirius yg bersinar paling terang di LANGIT.
Lalu bagaimana aku bisa melupakannya? Setiap aku menatap LANGIT aku bisa melihatnya, mengingatnya, merasakannya di dalam hatiku. Hampir gila rasanya mencoba melupakannya, lebih baik tidak melupakannya kan?
Tapi, bagaimana aku bisa hidup dengan kenangan yang selalu aku ingat? Aku harus hidup dengan kenangan lelaki yg sangat aku sayang namun tidak bisa aku miliki. Seolah Ia menyambarkan petirnya tepat di jantungku. Aku masih mampu bernafas, tapi sakit untuk menghelanya. Berkali-kali sambaran itu tak bisa menghentikan perasaanku padanya. Apa aku sudah mati rasa? Apa mati rasa salah satu tanda kebodohanku karna terlalu jauh mencintainya?
Apa hukuman untuk perempuan yg tidak bisa melepaskan diri dari kenangannya? Aku mungkin bisa melupakannya, tapi aku tidak mau mencobanya. Atau mungkin aku mau melupakannya, tapi aku tidak bisa. Atau aku memang tidak bisa melupakannya karna aku tidak mau melepasnya. Entah kenapa dia masih jelas dalam pikiranku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar